Senin, Februari 23, 2009

realita dalam cerita

MEMAKNAI MAKNA

Tak biasanya ia begitu. Duduk di suatu pojok lembab tanpa jutaan tawa yang biasanya selalu ia dambakan setiap hari bahkan setiap detiknya. Sekalipun dia terbiasa hanya diam di suatu sudut, ia pasti tertawa, tentu tawanya penuh makna. Pria tinggi dengan tubuh cukup ramping dan rambut coklat tuanya, kurasa dia yang mampu membuat “wanita pojok”, aku menyebutnya begitu, tertawa sumringah sekalipun ia hanya duduk di pojok, sudut.

Wanita itu hanya memperhatikan, tak pernah mencoba membuka mulutnya lalu mengeluarkan benang benang gelombang suara untuk menyampaikan satu kata saja untuk si pria berambut coklat itu. Ah, aku bingung, tak lelahkah ia hanya terus duduk, lalu tertawa, kadang hanya memperhatikan, dan begitu seterusnya. Kenapa tak disapanya pria itu tuk sekedar bertanya namanya? Yah walaupun aku tak tahu pasti apakah wanita itu mengenal pria tersebut atau tidak, tapi kurasa ia tak mengenalnya karena kebisuannya selama ini.

Kebingungan terus mengusikku hingga kedalam titik kecil dalam otakku yang memang sudah kecil ini. Kadang aku berfikir hal ini kelamaan bisa membuat otakku menguap lalu menciut ke ukuran yang lebih kecil lagi. Kenapa sel sel dalam otakku terus memaksa aku kembali ke tempat si wanita memperhatikan si pria yang keduanya orang asing bagiku. Aliran darah rasanya menjadi sangat cepat dan deras hingga rasanya mereka ingin menyembur keluar dari dalam tubuhku jika tak melihat kelanjutan cerita mereka.

Dengan langkah yang berat namun hati yang semangat , hari ini kembali kudapati mereka. Ya tentu saja si wanita dan si pria, memangnya siapa lagi. Hari ini aura yang ditampilkan si wanita tak lagi sama seperti kemarin. Warnanya kelabu, bahkan hampir mendekati hitam. Setelah kudekati sedikit, kulihat matanya mengeluarkan cairan hangat, namun warnanya tak bening seperti pada umumnya melainkan merah, bukan merah darah, tapi lagi lagi mendekati hitam, ya merah kehitaman. Lembar lembar rasa kasihan sekaligus ngeri muncul. Akhirnya otakku kembali bekerja, aku sadar, kutolehkan kepalaku ke sisi tepat pandangan si wanita terarah.

Ternyata benar, hari ini si pria berambut coklat tua tak hanya sendiri. Maksudku ia tak tertawa dengan teman sejenisnya, melainkan dengan seorang keturunan hawa yang apik sekali. Tak perlu kujelaskan, kalian pasti tau hawa macam apa yang pantas mendapat predikat apik tentunya. Wajah keduanya diliputi kebahagiaan yang kurasa sangat dalamnya hingga keduanya mengeluarkan aura serupa. Kuning keemasan, silau sekali, namun silaunya mampu membelai tiap tiap makhluk yang berada disampingnya. Benda matipun secara ajaibnya bisa mengamuk karena ingin bisa merasakan yang keduanya rasakan. Aku saja iri. Sangat iri. Tak heran aku sekarang jika si wanita pojok diliputi hitam. Hampir lupa aku, sekarang warna si wanita bukan hanya mendekati hitam melainkan sangat hitam. Hitam pekat, bahkan sebilah pisau cahaya pun tak mampu menembus hitamnya.

Aku makin tak mengerti, dan kali ini kuyakin otakku pasti telah mengecil sekitar satu atau dua centimeter. Begitu banyak gerakan yang membentuk tanda tanya yang tak mampu kucari ataupun kujawab sendiri. Ah, lagi lagi aku menarik napas begitu dalam begitu berat. Kenapa wanita pojok itu hanya duduk diam? Kemarin tertawa hari ini berduka. Siapa dia? Siapa pria berambut coklat itu? Dan siapa pula si hawa yang apik itu? Kenapa aku harus terlibat? Tapi satu yang pasti dan kusadari rasa penasaranku punya andil yang lebih besar dibandingkan tanda tanya yang muncul dalam otakku belakangan ini.

Hari ini kembali kutelusuri jalan penuh liku untuk menjamah tempat kejadian itu, lagi lagi tempat si pria dan dua wanitanya. Langkahku mendadak terhenti seperti direm mendadak, menimbulkan gumpalan debu yang terbang secara riang di sekitar kakiku. Keheranan. Tak kulihat si wanita pojok, si pria tinggi ramping, juga si hawa apik itu, kemana perginya mereka. Lalu apa yang harus kulakukan dengan tanda tanya di otakku? Bagaimana kujawab semua itu tanpa lakon ketiga peranan itu? Aku hanya berdiri mematung disana. Tak ingin rugi, aku berjalan mendekati pojok favorite sang wanita, siapa tahu ia datang dan aku bisa melanjutkan menonton kisahnya itu, tapi belum sampai sebegitu dekatnya, kudapati sebuah catatan, bersampul hitam, tak begitu tebal.

Tanpa pikir panjang kuambil buku itu lalu kubuka, “MAKNA”, tertulis nama itu didalamnya. Sedikit heran campur terkejut, namanya sama dengan namaku, Makna. Yah tapi tak terlalu kupusingkan lah itu. Menurutku sah sah saja tiap tiap jiwa punya nama yang serupa. Ingin kulanjutkan untuk membaca buku hitam itu, tapi tiba tiba sehembus angin bertiup bersama molekul molekul dingin lalu menyeruak dalam pori poriku hingga menimbulkan suatu getaran, dingin. Aku tak menggunakan penghangat tubuh, jadi kuputuskan untuk kembali ke tempat peristirahatanku yang nyaman, lalu akan kubaca buku itu disana.

Disinilah tempatku seharusnya berada, tempat yang nyaman dan hangat. Mereka bilang ini rumah, tapi menurutku ini tempat peristirahatan. Karena memang kugunakan tempat ini beristirahat, hanya untuk beristirahat. Kubuat secangkir kopi hangat, tak terlalu manis, seperti kisahku yang memang tak pernah sebegitu manisnya. Haha, aku tertawa sendiri, apa yang otakku ini pikirkan. Lalu kuambil sudut ternyaman untukku, didepan kaca besar menghadap ke sebuah taman kecil yang hijau, letaknya tepat ditengah tempat peristirahatanku. Apalagi sekarang hujan, ya aku sangat suka hujan, menurutkku hujan bisa menghapus dukaku. Duka hawa sepertiku yang terkadang di tinggal mati adamnya, setelah dihapus hujan, aku merasa lebih baik. Aneh memang, semua orang berkata seperti itu kok, aku memang senang berfantasi dan berkata kata yang tak dimengerti. Karena kata kataku hanya milik aku dan pikiranku, bukan untuk orang lain. Nah kan, lagi lagi aku menyimpang dari topik ini.

Akhirnya kubuka lembaran setelah lembaran bertuliskan nama Makna. Kira kira begini isinya :

Dunia maya, 27 Desember 2008.

Aku dan duniaku. Kembali kutatap benda elektronik di depan mataku. Aku lebih senang berkekasih dengan benda elektronik yang bisa menghubungkaknku lewat dunia fantasiku, dunia maya. Menurutku ini adalah tempat terluasku untuk menuangkan siapa aku tanpa takut malu menjadi aku. Aku yang tak ada menarik menariknya ini menjadi sangat menarik lewat tulisan yang ku post kedalam sebuah website buatanku. Disana aku tetap Makna, hanya saja Makna yang punya makna berbeda.

Lewat diapun aku bertemu dengannya,Ombak. Ia bukan makhluk yang senang menulis seperti kebanyakan pengikut setia websiteku itu, tapi secara ajaib ia muncul dan merasa tertarik dengan karya karya picisanku. Wanita tak menarik sepertiku pun tentu punya hati, dengan sekejap akupun jatuh hati.

Dari catatan itu aku tahu pria itu bernama Ombak. Tapi aku merasa sangat relevan dengan namanya, yasudahlah tak mau terlalu kupikirkan itu. Otakku terlalu banyak menampung hal yang tak perlu. Dari catatan itu pun aku tahu, bahwa tak setiap harinya si wanita menuliskan kejadian yang ia alami ke dalam si buku hitam karena tanggal ia menulis tak pernah runtut. Aku lebih senang menyebutnya si wanita karena namanya sama denganku. Kulanjutkan membaca buku itu, makin penasaran rasanya.

Lagi lagi Dunia Maya, 1 Januari 2009

“Sebuah tahun yang baru untuk memulai segala yang baru.”

Pencarianku tentangnya pun menjadi pekerjaan baruku.

Ia kembali mengomentari tulisanku, komentar kekaguman tentunya. Belakangan ini aku menjadi sedikit GR / Gede Rasa kata anak anak jaman sekarang. Tentu karena pujian pujiannya, jika itu dari adam yang lain mungkin rasanya tak sebegini bahagianya. Belum lagi tadi ia menyampaikan keinginannya untuk menjumpaiku. Pacuan energi senang muncul begitu saja namun hatiku sedikit merengek. Menyek layaknya di sinetron. Bagaimana jika ia menyesal bertemu denganku, aku akan kehilangan kataku bila bertemu dengannya, apa yang harus kukenakan, bagaimana jika baginya aku tak menarik seperti anggapan makhluk Tuhan yang lain. Ah. Betapa bodohnya aku, otakku makin bodoh saja kian hari. Tapi padanya aku menyerah. Kuputuskan untuk tetap bertemu.

Akhirnya si Wanita akan bertemu dengan Ombaknya, aku makin tak sabar apa yang akan terjadi kemudian. Entah mengapa semakin kubaca semakin bergemuruh dadaku. Ada gumpalan kepedihan yang tersimpan dalam hatiku, entah apa aku tak tahu. Buku itu pun tidak atau mungkin belum menceritakan suatu kepedihan, tapi kenapa aku tiba tiba menitikkan setetes cairan hangat. Meluncur pelan melewati pipi lalu jatuh ke baju yang kukenakan dan menimbulkan satu titik kecil layaknya sebuah lubang. Kecil namun hangat. Seketika tenggorokanku terasa tercekik, berat dan sakit. Aku makin bingung, aku tak mengeluarkan suara sedikitpun tapi rasanya tenggorokanku habis digodok untuk banyak berkata hingga menjadi jadi perihnya. Kugenggam pinggiran cangkir berwarna ungu cerahku dan kuseruput sedikit kopi. Kutatap taman kecil hijauku, ternyata hujan mulai reda, sedikit kecewa, padahal aku ingin hari ini hujan datang seharian penuh, setia menemaniku yang diliputi banyak tanda tanya. Tapi ternyata si hujan sudah mulai bosan hingga ia hanya mengirimkan sedikit rintik, gerimis. Kembali kubuka lembar selanjutnya untuk mengobati sedikit kecewaku.

Dunia nyata, 14 Februari 2009

“Tempat segala ketakutanku bermula, tempat kadang aku benci jadi aku.”

Degup jantung tak mampu kupungkiri sangat kencang. Degup jantung terkencang yang pernah kurasa. Mungkin karena ini sangat special, degup jantung yang sepantasnya untuk ia yang bisa membuatku merasakan rasanya yang mungkin namanya Cinta setelah sekian lama aku tak merasa. Pandangan kami bertemu di satu titik yang sama. Satu detik mungkin duniaku berhenti, tangan besarnya menjabat tanganku yang mungil, kecil. Aku berterimakasih tanganku tak berkeringat kali itu. Karena biasanya kelenjar keringatku bekerja berlebihan saat aku grogi, bocor barangkali. Ombak yang memulai percakapan, ia orang yang santun juga humoris, kadang ia hanya melemparkan senyuman saat aku berbicara. Walaupun aku tak mengerti mengapa ia tersenyum tapi aku senang senang saja. Toh kenyataan yang kualami sekarang tak semenakutkan yang ada di pikiranku.Ia pribadi yang menyenangkan. Ombak, Untuk pertama kalinya aku yakin apa yang kuinginkan, Ombak, aku menginginkannya. Bukan karena ini hari kasih sayang tapi karena aku memang menyayanginya.

“Dan di dunia nyata, bersamanya, aku tahu terkadang ketakutan harus dihadapi, itu hanya sebuah proses sebelum aku bahagia.”

Selesai. Hanya itu isi buku yang kutemukan. Semua berakhir bahagia. Kenapa si Wanita bersedih? Mungkin si pria bernama Ombak itu berselingkuh dengan si hawa apik yang tak kutahu namanya. Tapi tak tersuratkan mengenai si hawa. Lalu siapa dia? Kenapa catatan ini tak banyak menyuratkan hal yang ingin kuketahui? Terlalu bingungnya hingga kuteguk habis kopiku yang sudah sangat dinginnya tapi tetap nikmat bagiku dan kusadari si Hujan benar benar berhenti. Sepi. Langit sudah memancarkan kegelapan namun kosong. Tak ada bulan apalagi bintang. Kenapa semua sembunyi? Sembunyi dariku? Kenapa? Tanda tanya yang makin berjubel jumlahnya membuatku kian lelah, meningkatkan kadar kantuk, tidur. Aku terlelap tanpa mimpi dan bangun tapi seperti tak bangun. Rasanya sama, masih diliputi tanya.

Aku bangkit dari tempatku terduduk lalu terlelap yang ribuan menit lamanya. Catatan itu terjatuh, kupungutnya dengan malas karena belum sepenuhnya nyawaku terkumpul. Namun kuyakin mereka segera berkumpul karena keanehan terjadi lagi, catatan itu membuka pada halaman yang tak kutemukan. Ternyata belum selesai. Masih ada satu bagian. Bagian yang terpisah jauh dari yang lainnya.

“Kamu yang pantas membaca karena ini milikmu.”

Aku tak mengerti. Milik siapa? Maksudnya milikku? Kuputuskan membacanya kembali.

“Hahaha.. masih tak sadarkan diri?”

Aku adalah kamu, Makna. Kita ini satu, sama sama Makna. Kamu tak kenali aku sekarang, tapi akan segera jika kamu tak mau menyadarkan diri. Seperti yang kutulis, realita pahit memang seharusnya ada untuk menjadi proses pantas tidaknya adam dan hawa bahagia. Saat kamu rasa hidupmu tak sebegitu manisnya layaknya kopi favoritemu, kamulah yang sebenarnya menentukan itu semua. Si hawa apik ya? Itupun kamu. Tak sadarkah kamu selama ini kamupun menarik seperti si hawa apik karena dia adalah kamu saat kamu tentukan kamu bahagia, sedangkan aku si penulis yang hanya bisa duduk, memperhatikan, tertawa, menangis, dan kemudian menghilang adalah aku di bagian dirimu yang selama ini kamu jalani. Pengecut. Aku ada karena bagian dari dimensimu yang lain sudak terlalu lelah Makna. Dia yang menjadi Ombakku akan menjadi Ombakmu juga, itupun setelah aku atau harus kusebut kamu juga berhasil menerima realita. Cintanya datang saat kamu buka rasamu padanya, tak berarti buta juga kecuali kamu siap menerima.

“Sudah terbuka? kamu bermakna layaknya namamu Makna.”

Dimensi lain diriku atau dirimu,

Tak bertanggal

Bertempat di lubang kecil dalam hati yang tak bisa kautoleh untuk kaulihat tapi kau rasa.

Makna.

Aku sadar dan mulai mengerti. Hari ini tak kubulatkan tekadku untuk tak menangisi dia yang mati, melainkan kuyakinkan diri dan kulakukan dengan pasti. Ada hal yang lebih penting dari bagiamana dia mencintaiku, tapi bagaimana aku mencintai dia dan bagaimana aku menerima caranya mencintaiku. Saat kutoleh pada bagian bajuku yang kemarin menjadi titik basah menyerupai lubang, ia sudah mengering, hilang tanpa bekas. Aku sekarang bebas, bisa merasa apa yang tak kurasa karena lubang itu sudah tak ada. Hari ini aku kembali belajar. Belajar untuk menerima, belajar untuk meyakini. Setiap napas, setiap langkah, hanya untuk memaknai.

Dimensiku dimensimu, hari ini, tak kutanggali, berlaku seumur hidupku.”

Saat aku membuka mataku

Ia tak melihat layaknya buta

Saat kutabrakkan diri karena gelapnya tak terangi

Kau, Ombakku datang

Hempaskan aku dari gelapnya buta

Tuntun aku dalam hangat matahari pantaimu

Hingga aku merasakan halusnya bulir pasir

Dan kau selimutiku

Hangat

Akupun berhasil membukanya

Bukan mataku tapi hatiku

Ia yang menjadi mataku

Kubuka dia dan kamu masuk

Ombakku beserta matahari dan pasirnya

“Padanya yang akan selalu jadi ombakku, tetap bergelung dalam jiwaku dan pasti kan kumaknai mu seperti kumaknai ku saat ini, di dimensi ini. Yang nyata bukan maya.”

Tidak ada komentar: